FKIP UKI, You Make Me Love You!!! *
Jennifer Gloria Pongallo
Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP-UKI
Ketika di SMA, cita-citaku adalah kuliah di PTN (Perguruan Tinggi Negeri) atau PTK (Perguruan Tinggi Kedinasan) favoritku. Sedikitpun tidak timbul niatku kuliah di UKI, karena setiap kali saya mendengar kata “UKI” yang terlintas dalam pikiranku hanya satu: TA-WU-RAN!!! Aku dulu pernah melihat aksi ribut-ribut oleh mahasiswa di depan kampus UKI saat pulang sekolah sewaktu aku masih SMA. Karena kejadian itu, aku selalu berfikiran negatif tentang UKI—baik tentang kelakuan para mahasiswanya maupun tentang UKI itu sendiri.
Ketika lulus SMA, aku sangat yakin, dengan kemampuan yang kumiliki, aku dapat masuk ke PTN atau PTK favoritku. Tapi, setelah tes masuknya kujalani, ya ampun.. Gusti!! Aku gagal masuk ke PTN atau PTK itu. Aku sangat terpukul dan mencoba memahami mengapa aku gagal. Mungkin karena aku kurang berusaha dan sering memaksakan kehendak pada Tuhan. Tapi mau bagaimana lagi, mungkin itu adalah yang terbaik buatku dari Tuhan.
Sewaktu mulai mencari PTS (Perguruan Tinggi Swasta), orang tua dan saudara-saudaraku menganjurkan agar aku kuliah di UKI. Mendengar usul itu, aku langsung membathin, “YA AMPUN, GUSTI!! Mana mungkin? Tidak, tidak, aku nggak mauu!!! Aku besikeras menolaknya. Namun setelah tenang, aku berpikir, orangtua dan saudara-saudaraku sangat menyayangiku. Mana mungkin mereka mengusulkan sesuatu yang tidak baik bagiku. Tentu ada sesuatu yang ‘hebat’ yang mendorong mereka mengajukan usul itu. Mungkin saja Tuhan Yesus punya rencana yang indah buatku jika aku kuliah di UKI.
MENU MAKAN SIANG RESTORAN FKIP UKI *
Yemima PurwatiProgram Studi Pendidikan Matematika FKIP –UKI
Sial!!! Gagal lagi masuk universitas negri... Ke Jakarta deh aku, walau rasanya belum siap tinggal jauh dari nyokap dan adik – adikku. Setiba di Jakarta aku bingung mau masuk universitas mana, karena pilihan yang ada banyak banget di kota ini. Akhirnya kuputuskan mengikuti saran budeku mendaftar ke UKI. Beliau merekomendasikan universitas di Cawang, Jakarta Timur ini karena sepupuku juga dulu kuliah di sini, dan kualitasnya nggak kalah dengan universitas negeri yang kukenal.
“Permisi, Mbak, mau mendaftar jadi mahasiswa baru. Masih bisa, Mbak?” tanyaku pada petugas di bagian pendaftaran yang terletak di Rektorat UKI. Setelah itu aku menanyakan segala persyaratan dan prosedur yang harus kutempuh. Akhirnya sang petugas yang murah senyum itu mengatakan, “OK, kamu nanti harus ikut tes dulu ya dek … Pengumuman diterima atau tidaknya 3 hari sesudah tes.” Kata Mbak Petugas. Singkat cerita, aku mengikuti tes. Setelah tes. Aku berkenalan dengan Nina, yang mendaftar ke Fisipol.
Proses Panjang Menuju UKI*
Juliana Christine (0912150035)
(Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP-UKI)
Bekerja sebagai guru merupakan profesi yang sangat saya idam-idamkan semenjak saya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Oleh karena itu saya sangat berharap bisa melanjutkan studi ke Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) setelah lulus dari SMA. Hal tersebut merupakan keinginan terbesarku yang sangat saya inginkan dan harapkan sejak dulu.
OGM* (Oh My God)
HEILINDA ESTHER **
(0913150015)
(Mahasiswi Pendidikan Matematika FKIP-UKI)
Tak pernah terlintas dipikiranku untuk membuka website UKI, apalagi untuk melihat program studi yang ada di dalamnya. “M-E-N-A-K-U-T-K-A-N” itu kesanku tentang UKI. Mana mungkin aku kuliah di situ. Jangankan masuk, mencoba tes saja aku ogah.
Namun, karena Ayah dan Ibuku tetap memaksaku untuk tes di UKI, akhirnya aku jalankan. Dan ketika pertama kali datang ke UKI, entah karena label seram terpatri di benakku, … UKI kelihatannya memang menakutkan hingga aku membatin: “OMG, Bapa…, JAUHKANLAH CAWAN INI DARIPADAKU !!”
Ingin rasanya meneriakan kata-kata itu ketika aku tahu kalau aku diterima di UKI pada gelombang ke-3. Saat itu, aku berusaha sebaik-baiknya untuk tetap tidak menggubris penerimaan di UKI dengan tetap mengikuti tes-masuk di banyak perguruan tinggi lainnya. Akhirnya aku mendapatkan beasiswa di program studi Sistem Informasi UNIVERSITAS “X”. Aku sangat senang dan semakin punya alasan kuat untuk tidak kuliah di UKI. Apalagi melihat UNIVERSITAS “X” yang fasilitasnya sangat bagus, gedung mentereng yang menjulang, dan berlokasi di sebelah mall. Begitu menjanjikan hingga tekadku untuk tidak kuliah di UKI semakin bulat. Saking senangnya, tiap kali orang bertanya aku kuliah dimana, dengan PeDe aku langsung jawab: “Di UNIVERSITAS “X”.”
SEMANGAT*
Adisti Ratnapuri (0915150006)
(Mahasiswi Pendidikan Biologi FKIP-UKI)
Mungkin pengalaman yang akan kuceritakan dalam tulisan ini berbeda dengan pengalaman teman-teman FKIP lainnya. Ini adalah ringkasan perjalananku berjuang untuk menjadi mahasiswa UKI.
Sakit hati, sedih, kecewa, dan marah berkecamuk dalam hati dan pikiranku saat aku harus menerima kenyataan bahwa cita-citaku kandas. Aku seperti kehilangan separuh hidupku, sangat down, tidak bergairah belajar dan menjadi malas menghadapi hari esokku. Berhari-hari aku berdiam diri, bahkan aku sempat larut dalam kelam kesedihan dan kekecewaan. Namun aku berpikir, AKU TIDAK BOLEH HIDUP SEPERTI IKAN MATI YANG TERUS BERENANG MENGIKUTI ARUS. Akhirnya aku pun menemukan titik terang dan semangatku pun perlahan mulai bangkit kembali. Aku pun mulai menjalani hari-hariku lagi sambil memikirkan harapan lain yang masih mungkin dapat aku raih, hingga akhirnya aku memutuskan kuliah di FKIP MIPA (BIOLOGI).




