VIVA UKI*

Besoknya aku dan mama langsung mendatangi Sekolah Tinggi Kebidanan Negri “C” untuk konfirmasi pendaftaran ulang, Ketika kami sampai di sana, aku kaget melihat Mahasiswi Baru yang sedang menjalani PPMB. Kamipun mendatangi ruang Tata Usaha, dan diberitahu, “Maaf Bu, putri ibu dianggap mengundurkan diri, Jadi tempatnya sudah di gantikan oleh peserta cadangan yang lain”. Saking kagetnya, aku hanya bisa terdiam dan membatin, “ini sungguh tidak adil! Kemanakah engkau Tuhan? Teganya Engkau meninggalkan hambamu ini!” Kamipun pulang dengan penuh kekecewaan.


Sesampainya di rumah akupun mencari-cari informasi tentang penerimaan mahasiswa baru universitas swasta di Jakarta. Setelah mencari informasi dan menelpon ke sana-sini ternyata sudah pada tutup. Malamnya keluarga kami berkumpul di ruang tengah untuk memutuskan tempat kuliahku dimana. “Masuk Keguruan Bahasa Inggris di UKI saja” kata mama. “Les-les saja dulu setahun untuk persiapan ujian masuk fakultas kedokteran negeri atau latihan-latihan fisik saja dulu untuk persiapan melamar ke Kampus Kemiliteran Negeri di Bandung tahun depan” kata Bapak.

Entah kenapa, di pikiranku terlintas keinginan membuka internet di komputer. Aku pun mencoba untuk membuka website http://uki.ac.id. Puji Tuhan, masih ada Gelombang ke-6, yaitu gelombang yang terakhir penerimaan mahasiswi baru pada saat itu. Akupun berinisiatif untuk pergi sendiri langsung ke UKI untuk mendaftar ke sekretariat pendaftaran mahasiswa baru. Pertama kali aku menginjakkan kakiku di UKI, hati kecilku berkata : OH my God…..Inikah buah yang harus ku petik di saat perjuanganku pergi pagi pulang malam setiap hari selama setahun di kelas 3 SMA? Ingin rasanya aku bunuh diri saja. Tidak ada gunanya hidupku ini.

Pada tanggal 14 Agustus 2010, aku menjalani tes di UKI. Kali ini juga aku berangkat sendiri naik bis jam 6 pagi. Aku tidak enak meminta antar ke UKI karena ini semua memang sudah nasibku yang sudah mengecewakan orang-orang yang ku sayangi. Malamnya aku berdoa dan tak terasa air mataku pun mengalir dengan sendirinya, “Tuhan, biarlah kehendakMu yang jadi. Inilah aku apa adanya, semuanya ku serahkan ke dalam tanganmu, Amin “

Tiga hari kemudian pengumuman tes itu ada di Website UKI. Sungguh mujizat itu nyata. Maria Rimelda Pasaribu mendapatkan Grade “A” , yaitu mendapat potongan biaya kuliah selama setahun pertama sebesar 4,8 Juta Rupiah. Malamnya orangtuaku kuberitahu tentang hal itu dan mereka sangat senang mendengar kabar baik itu. Mereka juga yakin UKI memang kampus yang terbaik di kirim oleh Tuhan kepadaku untuk menjadi seseorang yang lebih baik ke depannya. Tetapi hati kecilku berkata, “kenapa Tuhan , kenapa, kenapa, kenapa, dan kenapa aku harus kuliah di UKI?”. UKI itu, televisi, media massa, dan saudara-saudaraku, sangat M-E-N-A-K-U-T-K-A-N. Namun aku berdoa, “Bapa ajarlah aku untuk mengerti akan setiap jalan hidup yang kau berikan padaku”.

Haripun berganti hari. Tiba saatnya aku mengumpulkan berkas-berkas untuk melakukan registrasi ke UKI. Setiap aku melangkahkan kakiku ke UKI untuk mengurus semua perlengkapan dan mengambil Jaket Almamater, hati kecilku hanya bisa menangis karena masih belum bisa menerima semua kenyataan hidupku ini. Bahkan terkadang aku bingung untuk menjawab aku kuliah di UKI jika ada orang bertanya aku kuliah di mana.

Saat PPMB aku banyak mendapatkan pelajaran mulai dari bersikap sopan santun kepada semua warga UKI yang katan orang menakutkan hingga belajar menerima semuanya dengan lapang dada. Walaupun aku bukan salah satu calon mahasiwa yang yang mendengarkan dengan seksama semua seminar-seminar yang ada, tapi aku bisa mengutip bahwa Lulusan UKI ternyata banyak yang bekerja di pemerintahan sebagai pejabat, politisi, maupun pengusaha. Bahkan Ibu Negara saat ini juga alumni UKI. Aku sangat Bangga dengan UKI.

Hal lain yang tak mungkin terlupakan adalah berbagai aktivitas PPMB tingkat fakultas di FKIP. Walaupun perlengkapan hari itu sangat aneh-aneh dan kami hanya diberi waktu malam hari untuk mencari dan membuat yang di suruh, tapi aku sangat senang. Salut dan bangga pada kakak-kakak seniorku yang sudah merelakan waktu liburnya untuk membina kami. Salah satu seminar yang paling kuingat adalah yang berjudul “How to Become a Leading Student” oleh si Mr “Tampan” Situjuh Nazara. Isinya menekankan bahwa “Janganlah kita menjadi manusia yang biasa-biasa saja (bukan menjadi ekor) tetapi hendaklah kita menjadi Pemimpin (kepala), Jadi, berusahalah untuk menjadi pribadi yang Luar Biasa”.

Kami juga dipertemukan dengan beberapa alumni FKIP-UKI yang sukses menggeluti karir masing-masing, seperti pengusaha, perwira brimob, dosen, kepala sekolah. Aku terharu karena meskipun sudah sukses, ternyata mereka sangat perduli pada almamater dan junior mereka. Buktinya, dengan antusias mereka bersedia meluangkan waktu untuk berbagi dengan kami mahasiswa baru. Thanks God, kau kirim aku ke UKI ini. Aku berjanji akan melakukan yang terbaik dalam segala hal semampuku yang seturut dengan kehendakMu Tuhan.

Salam VIVA UKI………!!!!!!!  God Bless :)

* VIVA UKI [Pemenang IV Lomba Esai Kreatif Pada Acara Program Pembinaan Mahasiswa Baru FKIP-UKI 2010/2011]