Proses Panjang Menuju UKI*
Setelah lulus SMA, saya mendaftar mengikuti tes seleksi di universitas negeri yang memiliki fakultas keguruan dan ilmu pendidikan. Namun hasilnya tidak seperti yang saya inginkan. Saya kurang beruntung. Saya tidak lolos dalam seleksi tersebut. Akibatnya, harapan dan motivasi saya mulai menurun. Pesimisme mulai menghinggapi diri saya. pesimis. begitu sedih dan kecewanya sampai saya berpikir bahwa saya mungkin tidak bisa menjadi seorang guru.
Saat menimbang-nimbang untuk beralih ke jurusan psikologi, juga timbul sebuah ide di benakku, untuk tetap mencoba mendaftar ke fakultas keguruan di Universitas Kristen Indonesia yang berlokasi di Cawang. Aku merasa mulai bergairah kembali. Namun gairah itu bercampur keraguan karena berbagai berita yang menyatakan mahasiswa UKI sering melakukan tawuran dan kekerasan. Gairah dan keraguan itu memaksaku berpikir keras. Kalau benar mahasiswa UKI sering tawuran, mengapa alumninya banyak menjadi orang berprestasi dan berpengaruh. Jangan-jangan tawuran di UKI terlalu dibesar-besarkan. Bukankah sebenarnya di kampus/universitas lain juga terjadi tawuran? Oke-lah di UKI pernah terjadi beberapa kali tawuran. Tapi masa hanya itu saja yang diberitakan jadi ciri khasnya? Kok prestasi dan hal-hal baik tidak diungkapkan media massa? Dilihat dari beberapa alumni yang kukenal, yang secara umum berprestasi di bidangnya, pastilah pemberitaan tentang UKI selama ini tidak adil. Pemikiran ini akhirnya memantapkan pilihan saya untuk melanjutkan studi di FKIP universitas tersebut.
Karena niat untuk melanjutkan studi di FKIP-UKI didukung oleh keluarga, akhirnya saya tidak ragu lagi. Secara langsung saya mendatangi Universitas Kristen Indonesia untuk mendaftarkan diri sebagai peserta tes masuk ke Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. FKIP UKI. Kesan yang timbul di benak saya tentang UKI begitu saya pertama kali memasuki kampus tersebut adalah kampusnya yang sangat luas, bersih dan tertata dengan rapi. Selain itu, para karyawanny juga sangat ramah dan sopan selama saya mendaftar dan mencari berbagai informasi di universitas tersebut. Jadi, benar dugaan saya bahwa gambaran jelek tentang UKI selama ini pada dasarnya dibesar-besarkan.
Setelah saya diterima di universitas tersebut tibalah saatnya acara penerimaan mahasiswa baru yaitu acara penyelenggaraan program pembinaan mahasiswa baru (PPMB) tahun akademik 2009/2010. Awalnya saya merasa agak takut dengan kegiatan yang akan dilaksanakan selama lima (5) hari tersebut mulai tanggal 24-28 Agustus 2009. Pada hari pertama dan kedua mahasiswa baru hanya mendengarkan pidato atau ceramah di ruang aula. Kesan takut langsung hilang. Namun pada hari yang ketiga, ketika PPMB berada di tingkat fakultas, rasa was-was timbul lagi. Mahasiswa/mahasiswi baru angkatan 2009-2010 mulai berinteraksi dengan kakak-kakak senior. Mahasiswa baru disuruh membawa berbagai atribut atribut aneh, makanan sendiri dan beberapa perlengkapan sederhana tapi sulit-sulit gampang diperoleh karena berbagai kriteria yang aneh dan ajaib.
Saat itu perasaan saya sungguh sangat kesal karena bagi saya ucapan-ucapan kakak senior tersebut sungguh membuat saya takut dan jengkel. Mereka memarahi yang melakukan kesalahan. Ada yang berteriak-teriak (walaupun ekspresi mukanya senyum-senyum, karena kakak itu pada dasarnya tidak sanggup marah-marah). Sekalipun demikian, karena di keluargaku kami jarang marah-marah, aku agak takut juga, sehingga kedua hari itu cukup melelahkan, menegangkan, dan agak menakutkan bagi saya.
Namun setelah PPMB fakultas selesai, saya langsung menyadari ada berbagai pelajaran yang berharga yang kupetik selama dua hari itu. Pertama, karena saya sudah menjadi mahasiswi saya harus meninggalkan sikap kekanak-kanakan saya. Saya harus mandiri, bertanggungjawab dan punya mental yang kuat agar siap bersaing dimasa yang akan datang. Kedua, aku memperoleh wawasan yang lebih luas tentang profesi guru. Menjadi guru kompeten di masa depan ternyata sangat jauh berbeda dengan pemahamanku sebelumnya. Ketiga, berbagai pembicara selama dua hari itu membuat motivasiku untuk berbuat yang terbaik semakin tinggi. Aku harus belajar tekun agar dapat menyelesaikan studiku dalam empat tahun. Dengan demikian aku bisa merealisasikan tantangan Pak Parlin ketika mengatakan, “See you at the graduation day in Novemmber 2013.”
Akhirnya satu minggu sudah saya lalui. Saat ini saya sudah mulai belajar di kampus bukan lagi sebagai “siswa" tetapi sebagai “mahasiswa” yang dituntut kedewasaan, tanggung jawab, dan disiplin. Harapan terbesar saya adalah menyelesaikan studi ini selama 4 tahun dan, seperti tantangan Pak Parli, saya berharap bulan November tahun 2013 saya dan kawan-kawan bisa bersama-sama mengenakan toga di Jakarta Convention Center (JCC). Selain itu aku juga berharap FKIP UKI bisa lebih maju, menghasilkan para guru/pengajar yang ahli/profesional di bidangnya, bukan hanya menjadi pengajar yang handal, tetapi pengajar yang memiliki keimanan yang kuat terhadap Tuhan dan pengajar yang selalu takut akan Tuhan, yang menggunakan hidup bukan untuk melayani terlebih melayani Tuhan dan sesama. VIVA UKI!!!
*Pemenang III Lomba Esai Kreatif Pada Acara Program Pembinaan Mahasiswa Baru FKIP-UKI 2009/2010




