SEMANGAT*


Singkat cerita, aku pun kembali menelan ludah getir kekecewaan yang jauh lebih menjatuhkan semangatku dan memupuskan hampir semua harapanku. Bagaimana tidak? Dengan susah payah aku berusaha membangkitkan semangatku lagi untuk meraih harapan keduaku menjadi seorang guru, tiba-tiba saja mama memintaku menunda kuliah hingga tahun depan karena keterbatasan biaya. Aku tidak bisa merasakan diriku sendiri, sangat kacau, down dan tidak semangat menghadap UAN yang saati itu tinggal 3 bulan lagi. Aku seperti manusia yang hidup segan mati belum siap. Tidak hanya itu saja, kekecewaanku masih ditambah lagi dengan bapak yang menyuruhku bekerja dan melupakan kuliah. Sungguh sangat sakit dan perih perasaanku.

AKU TIDAK BOLEH TERJATUH tetapi AKU HARUS BANGKIT. Itulah seruan hati kecilku yang benrsaha tetap semangat Walaupun awalnya sangat down tetapi kekecewaan dan tekanan yang kudapat kali ini jusru menjadi motivasi untuk melanjutkan perjuangan ku agar bisa kuliah di FKIP dengan biaya sendiri. Tekadku semakin kuat dengan dukungan penuh dari sahabat bandku.

Dimana ada kemauan pasti di situ ada jalan. Saat itu Allah memberikan kesempatan padaku untuk mengajar les privat. Anak asuhku ada 5 orang untuk tingkat SD dan SMP. Uang yang kudapat dari mengajar kupergrmakan untuk membayar SPP, buku dan UAN, selebihnya ditabung untuk kuliah. Aku sangat menyukuri hidupku. Keseharianku yang sejak kecil membiasakan diri hidup mandiri dan prihatin membuatku tidak gentar menghadapi kehidupan ini. Hidup jauh dari orangtua dalam perantauan dan mengajar privat sudah menjadi bagian dari hidup. Aku mulai mengajar privat sejak kelas 6 SD hingga sekarang.

Hari demi hari semangatku semakin membara dan semakin mantap untuk memilih FKIP. Dengan uang hasil mengajar dan tabungan, aku bisa membeli formulir UKI dan SNMPTN. Singkat cerita aku tidak lolos SNMPTN karena salah memasukkan nomor ujian. Tetapi aku tetap semangat karena masih ada UKI, kampus swasta yang kualitas pendidikannya tidak kalah dengan kampus negeri.

Bagiku UKI bukanlah berita baru. Aku banyak mengetahui banyak hal tentang UKI dari kakak dan sepupuku yattg menjadi alumni Fakultas Sastra UKI. Menurutku UKI tidak kalah hebat dengan PTN. Selain lokasi kampus yang shategis, biaya kuliahnya pun cukup terjangkau olehku yang kuliah dengan biaya sendiri. Oleh karena itu aku sangat percaya dengan pilihanku untuk kuliah di FKIP UKI. Banyak faktor yang mendorongku untuk memilih FKIP UKI. Selain karena tidak lulus PTN dan kekecewaan atas pupusnya cita-citaku menjadi sseorang dokter, juga karena guru Biologiku kelas 3 SMU yang menjulukiku Astrolophitecus africanus, beliau juga tidak pernah memberikan nilai tuntas hingga aku menjadi langganan remedial. padahal sebelumnya aku tidak pernah remedial untuk pelajaran Biologi.

Faktor pendorong lain adalah karena aku mencintai dunia belajar-mengajar yang sudah menjadi bagian dari hidupku walaupun hanya sebatas mengajar privat SD, SMP dan beberapa kali menjadi asisten guru untuk membantu mengajar di sekolah, juga atas dasar kecintaanku pada anak-anak asuhku yang sangat memotivasi dan mendukungku untuk kuliah di FKIP. Dari mereka aku banyak belajar bagaimana aku harus sabar mengajari mereka, bagaimana aku belajar memahami karakter mereka bagaimana aku harus berkomunikasi yang baik saat mengajar, bagaimana cara menyampaikan materi dengan cara yang semudah mungkin untuk mereka pahami, dan bagaimana aku bisa mencintai dan mengajar mereka dengan tulus penuh kasih saying. Sekarang aku sangat menikmati profesiku awal sebagai guru les privat. Pengalamanku mengajar privat ± 6 tahun membuatku semakin tertarik dan termotivasi untuk menyelami dunia pendidikan.

Mungkin aku tidak bisa menceritakan kesan menarik pada karya essai ini tentang kegiatan PPMB selama 5 hari, seperti teman-temanku angkatan'09 yang lain. Tetapi semua yang aku tulis dalam karya essai ini adalah cerita perjuanganku yang terjatuh bangun, tertatih, penuh dengan air mata dan kerja keras untuk bisa kuliah dan menjadikan UKI sebagai alrnamaterku. Sebagai simbol kebanggaanku menjadi mahasiswi UKI adalah tato permanen pada betis kiri kakiku cap knalpot motor dari hasil percetakan ditabrak mobil hanya untuk mencari perlengkapan  PPMB.

Percaya tidak percaya, saking semangat dan senangnya bisa kuliah di UKI, aku sangat menantikan hari pertama PPMB. Aku berusaha mencari segala perlengkapan PPMB sejak H-3 sebelum PPMB. Seperti karton manila coklat, pita coklat-biru 3cm, pas photo 3x4, dsb. Tetapi untuk yang kesekian kalinya Allah berkehendak lain padaku. Jum'at 2l Agustus 2009, aku dan temanku selly (FH UKl'09) mengalami kecelakaan di Narogong. Kami di tabrak mobil dari belakang hingga motor yang kami naiki menabrak pohon palem. Keadaanku paling parah karena aku yang dibonceng. Kaki kiriku terimpa motor hingga membuatku harus menjalani perawatan beberapa hari di RS Rawalumbu. Yah, walaupun begitu aku tetap bersyukur karena tulang kakiku tidak patah.

Kecelakaan saat itu tidak menggoyahkan semangatku walaupun kuakui aku sangat sedih melihat keadaan kaki kiriku yang tidak bisa digerakkan. Walaupun begitu, dalam kesakitan aku tetap berusaha latihan berjalan meskipun harus diawali dengan cara mengesot selama 2 hari.  Jujur aku kecewa tidak bisa ikut PPMB. Jangankan untuk ikut PPMB, untuk melangkah pun aku berkeringat dingin seperti bayi yang baru belajar berjalan.

Sampailah pada hari kedua PPMB. Keadaanku cukup membaik dan aku berusaha merayu mama agar diizinkan ikut PPMB Pada hari ketiga. Kugunakan rayuan gombal, hingga akhirnya aku mendapat izin dari mama. Dengan semangat kutelepon satu persatu teman SMU-ku yang juga kuliah di UKI untuk menanyakan tentang perlengkapanp PPMB hari Rabu. Tidak ada yang tahu' sampaai akhirnya aku mendapat informasi perlengkapan  PPMB dari Martha (FKIP MATEMATIKA UKI' 09). Dengan semangat aku berusaha melengkapi perlengkapan tersebut mulai dari menyiapkan makanan membuat tas kardus hingga aku harus mengecat nanila putih dengan warna coklat yang menjadi warna FKIP.

Memang benar tidak selamanya yang kita inginkan menjadi kenyataan. Aku sudah berusaha semampuku untuk bisa ikut PPMB, tapi nasib berkata lain. Kakiku sakit lagi, Keram dan tidak bisa digerakkan. Singkat cerita akhirnya aku hanya mengikuti PPMB hari keempat dan kelima. Kesanku pada hari pertama adalah aku senang berkenalan dengan Malvin (FE UKI'09) dan Rima (FKIP BIOLOGI UKI'09), merekalah teman baruku yang Pertama. Hari berikutnya aku lebih banyak mendapatkan teman.

Akhirnya dengan usaha, kerja keras, doa dan semangat yang tidak pernah padam, aku berhasil menjadi mahasiswi FKIP UKI. Harapanku terhadap FKIP UKI adalah semoga Bapa/Ibu Dosen & kakak senior dan seluruh keluarga besar FKIP UKI bisa mendukung dan bekerja sama yang baik denganku agar aku menjadi mahasiswi FKIP UKI yang kelak bisa menjadi tenaga pendidik yang professional, karena aku akan menerapkan pada anak bangsa agar mencintai dunia pendidikan dan tetap berusaha dengan semangat untuk meraih pendidikan demi mewujudkan harapan dan cita-cita.

Aku tidak ingin berkomentar banyak mengenai perjalanan panjangku hingga aku berhasil menjadi mahasiswi UKI, yang jelas apapun yang aku lakukan adalah karena aku ingin menjadi orang sukses. Terlebih karena aku ingin membuktikan kepada kedua orang tuaku bahwa aku masih bisa berdiri di atas hidupku sendiri walaupun berbagai tekanan dan hambatan datang bertubi padaku.

Perjuanganku untuk bisa kuliah mungkin tidak akan terwujud tanpa semangat yang kuat. Aku percaya bahwa seseorang yang punya Komitmen, kegigihan, dan ketekunan akan kalahkan lebih dari seribu orang yang punya minat saja. Oleh karena itu, aku harus bisa memastikan tekadku untuk bisa mencapai garis akhir dari perjalanan panjangku mewujudkan sisa repihan cita-cita yang hampir pupus untuk menjadi seorang guru.

Sampai saat ini aku percaya bahwa di balik awan gelap masih ada pelangi. Aku yakin dengan kerja keras dan doa yang tidak pernah berakhir akan membawaku menuju gerbang kesuksesan untuk mewujudkan harapanku. Semua ini akan aku jalani dengan ikhlas, tulus, rasa cinta, tanggung jawab, senyuman dan SEMANGAT. Disty harus tetap SEMANGAT, SEMANGAT dan selalu SEMANGAT, itulah motto hidupku. Motto hidup yang membuatku bertahan hidup dan tidak pemah menyerah menjalani lika liku kehidupanku

Should God give the right to choose between wealth and knowledge, I would choose the knowledge to get all the treasures on earth. Yah, seandainya Tuhan memberikan pilihan padaku harta atau pengetahuan, akan kupilih pengetahuan untuk mendapatkan segalanya yang ada di dunia ini. Bagiku belajar bukan sekedar untuk mencari ilmu dan nilai, melainkan untuk mempersiapkan hidup.

Perjalanan hidupku mengajarkan bahwa aku tidak boleh menutup kesempatan untuk meraih kesuksesan belajar dan berusahalah dengan tekun maka matahari akan tersenyum menyambut masa depan cerah untukmu...!
Kata Mutiara penyemangat hidupku:
Perbaikilah kesalahan dan belajarlah dari kegagalan sebagai awal dari keberhasilan.
Pertahankanlah dan raihlah apa yang kau cita-citakan dan kau harapkan.
Jadikanlah harapan dan cita-citamu sebagai impian yang harus diwujudkan
Gunakanlah kesempatan yang ada dengan baik untuk menyongsong masa depan cerah.

SEMANGAT……………………..!
 

*Pemenang II Lomba Esai Kreatif Pada Acara Program Pembinaan Mahasiswa Baru FKIP-UKI 2009/2010