FKIP UKI, You Make Me Love You!!! *
Ketika mendaftarkan diri di PTN, aku sama sekali tidak mencantumkan program Pendididkan Bahasa Inggris dalam pilihanku. Walau aku sangat menyukai bahasa Inggris, tapi aku tidak mau jadi guru. Cita-citaku yang utama adalah bekerja di kedutaan besar asing yang ada di indonesia. Bahkan di saat aku sudah memutuskan untuk mendaftar ke UKI, pilihan utamaku adalah program ****** Inggris. Tidak terbersit sedikitpun niat memilih program Pendidikan Bahasa Inggris. Seorang tanteku pernah menganjurkan untuk mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di UKI. Dia menjelaskan pada mamaku tentang keuntungan menjadi seorang guru daripada menjadi pekerja kantoran. Mamaku pun menyuruhku untuk mengambil jurusan itu, tapi aku sama sekali tidak berminat ke situ. Tapi ketika aku melihat brosur Pendidikan Bahasa Inggris UKI, di situ ada seorang Pria alumni Pendidikan Bahasa Inggris UKI yang pernah menjadi dosen di UKI. Tapi sebelum menjadi dosen, dia bekerja di Kedutaan Besar Amerika yang ada di Indonesia dan sekarang beliau bekerja di VOA (Voice of America) Washington D.C. Hal ini menyadarkanku bahwa Pendidikan Bahasa Inggris FKIP-UKI tidak hanya menghasilkan guru yang kompeten, tapi juga dapat bekerja di bidang lain, termasuk di kedutaan besar seperti yang kucita-citakan selama ini. Lagipula kalau memang nantinya aku menjadi seorang guru, dalam hati yang dalam aku tidak keberatan sama sekali, karena aku sangat mencintai tugasku sebagai guru sekolah minggu di gerejaku. Dan kalaupun aku menjadi guru bahasa Inggris nantinya, bukankah itu pelayanan yang luar biasa untuk Tuhan Yesus?
Setelah banyak berpikir dan melakukan pertimbangan, akhirnya aku mendaftar ke rektorat UKI dan merasa mantap untuk memilih program Pendidikan Bahasa Inggris sebagai tempatku mempersiapkan masa depanku. Begitu sampai di UKI, aku mengamati lingkungan kampus, baik mahasiswa ataupun gedung-gedungnya. Kesanku tentang UKI mulai berubah. Menurutku kampus ini tidak seburuk apa yang kubayangkan selama ini. Namun ketika aku melihat wajah-wajah calon mahasiswa baru yang mendaftar bersamaku, kesan baik tentang UKI yang baru tumbuh mulai goyah. Mereka terlihat agak sengakkk!! Itu membuatku agak khawatir, aku takut saya tidak bisa mempunyai banyak teman di UKI kelak. Ditambah lagi saat mengikuti USM UKI, aku melihat tidak sedikit peserta tes yang cuek, asik dengan dirinya sendiri. Sebagian lagi membentuk kelompok “gank”. Aku jadi lebih takut dan minder kuliah di UKI. Namun USM tetap kujalani dan akhirnya aku diterima di UKI.
Tibalah hari pertama PPMB. Yang bisa kulakukan cuma berserah kepada Tuhan dalam segala hal. Pada hari pertama tiba di UKI, aku merasa sendiri. Aku terpelongo dan iri pada mahasiswa baru yang datang bergerombol dengan teman-temannya. sedangkan aku hanya sendiri. Langkah demi langkah kutapaki dari area parkir dan akhirnya tiba di aula. Setelah mengisi daftar hadir, aku mulai mencari-cari bangku yang kosong dan memilih duduk di barisan paling kanan dari pintu dan duduk di deretan tengah. Di samping kiriku duduk mahasiswi baru Fakultas Kedokteran, sedangkan sebelah kanan saya duduk mahasiswi baru Fakultas Hukum. Awalnya aku hanya diam. Aku tidak berani berkenalan duluan dengan mereka. Tiba-tiba orang di sebelah kananku mengajak berkenalan, namanya Claudya. Awalnyya sih… aku agak kagok, tapi lama-kelamaan dia membuatku mengeluarkan sifat asliku yang senang punya teman banyak. Aku mulai percaya diri untuk berinisiatif memulai perkenalan dengan orang lain.
Setelah acara pembukaan, acara-acara seminarpun akan dimulai. Segera timbul dalam pikiranku: “Nah... bersiaplah untuk melalui masa-masa penderitaan karena duduk, diam, selama mendengar ceramah-ceramah yang membosankan.” Tapi, saat seminar pertama dimulai... asli deh..... wow!!!! Seminar di UKI kok begitu menarik? Menurutku, sebagian besar dari seminar yang diadakan selama 2 hari itu sangat bagus dan menarik untuk disimak dan juga sangat memotivasi untuk tetap semangat mempersiapkan masa depanku di UKI. Pembicara-pembicara yang dihadirkan adalah alumni UKI yang telah menjadi orang-orang ternama di Negara ini. Ck..ck..ck.. Ya, ampun… GUSTI!! Ternyata banyak orang yang sering kubaca di koran dan sering kulihat di tv adalah alumni UKI. Meskipun kebanyakan dari mereka adalah alumni Fakultas Kedokteran dan Fakultas Hukum, sedangkan aku dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan!
Hari ke 3 dan ke 4 adalah masa pembinaan di tingkat fakultas. Dua hari itu kami langsung dibina oleh kakak tingkat. Kedua hari terasa melelahkan tapi sangat menyenangkan. Kusebut melelahkan karena aku dan mahasiswa baru sefakultasku disuruh melakukan banyak hal. Menyenangkan adalah ternyata teman-temanku di program Pendidikan Bahasa Inggris ternyata sangat “lebay” dan asyik diajak berteman, tidak seperti penampilan mereka yang menurutku agak sedikit ‘sengakkk’. Tanpa kusadari, ternyata aku merasa sangat senang masuk ke UKI!! Lalu ada sesi tatap muka dengan empat alumni FKIP yang menekuni profesi berbeda-beda. Tiga orang diantaranya merupakan alumni program Pendidikan Bahasa Inggris, dan ketiganya berkarir di tiga bidang yang berbeda. Temu alumni ini makin membuatku semakin yakin bahwa, seperti mereka, saku bisa menjadi orang sukses dan berhasil di masa depan dengan cara menuntut ilmu di UKI dengan sungguh-sungguh.
Hari ke-5 adalah hari terakhir dari rangkaian kegiatan PPMB. Meskipun ada suka dan dukanya, menurutku itu adalah pengalaman paling berharga yang pernah kualami sepanjang hidup. Aku yang tadinya tidak mau masuk UKI, setelah menikmati suasana dan acara-acara PPMB yang dikemas di tingkat Universitas maupun di tingkat FKIP, kini justru merasa betah dan senang kuliah di sini. Bukankah itu luar biasa? Hanya dalam waktu lima hari, dengan cara yang menarik, UKI berhasil mengubah aku menjadi jauh lebih bijaksana. Apalagi setelah empat tahun ke depan? Hmm.... FKIP-UKI, I just wanna say that I love the way how you make me love you.




